Sabtu, 07 April 2012

an unexpected surprise


Tak,tok,tak,tok. Suara entakan sepatu menggema di koridor yang kosong. Tak lama, sebuah sosok muncul dengan membawa sebuah kapak, jubah hitam menutupi hampir seluruh tubuhnya. Seringai lebar muncul dari mulutnya yang tidak tertutup jubah.
Hani berlari dan terus berlari mencari jalan keluar. Sesekali ia menoleh ke belakang mendapati sosok itu semakin dekat dengannya. Sekuat apapun dia mencoba untuk berlari, sosok itu selalu saja berada tepat di belakangnya. Sebuah perempatan di koridor itu, membuat Hani berhenti sesaat. Sambil menelan ludah, ia pun memilih untuk tetap berlari lurus.
Sebuah pintu yang menghubungkan koridor dengan dunia luar terlihat dari kejauhan. Hani semakin mempercepat larinya. Namun, dia kembali panik saat melihat pintu itu tergembok. Dia menoleh kesana-kemari, mencari tempat bersembunyi ketika dilihatnya sosok itu telah berbelok ke arah koridor tempatnya berdiri. Dia pun segera masuk ke dalam sebuah kelas yang berada tidak jauh darinya. Dia memilih bersembunyi di bawah meja guru dengan tubuh gemetar.
Tak,tok,tak,tok. Suara entakan sepatu kembali terdengar di susul bunyi pintu yang terbuka. Hani memejamkan mata sambil menggigit bibir. Meja tempatnya bersembunyi tertutup dengan taplak yang panjangnya hampir mencapai lantai. Tapi dia yakin, cepat atau lambat dirinya pasti akan ditemukan.
Dalam diam, Hani mengingat kembali teman-temannya. Satu-persatu wajah mereka muncul dalam benaknya, disusul dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Suka dan duka telah mereka lalui bersama, menghilangkan semua rasa sepi dalam hati. Tapi sekarang tak ada lagi yang akan menemaninya melewati hari-hari. Mereka semua telah tiada dan itu semua ulah dari seorang psikopat yang tak tahu belas kasih. Kini hanya tinggal dia sendiri yang akan menghadapi psikopat itu dan dia yakin, sebentar lagi dia juga akan menyusul teman-temannya.
Hani mendengar suara entakan sepatu yang sama, semakin mendekat ke arahnya. Ia bisa merasakan sosok itu telah berada di depannya. Srek, suara taplak meja terangkat. Sosok itu kini telah berjongkok di depannya. Hani pun semakin erat memejamkan matanya, ia pasrah dengan hal yang akan terjadi sebelumnya.
Lama Hani menunggu, tapi tak terjadi apa-apa dengannya. Karena penasaran, dia pun membuka matanya...
“ Happy Birthday, Hani!!!” Rasa terkejut tak bisa disembunyikan dari wajahnya, saat melihat sosok berjubah hitam itu kini tengah membawa sebuah kue tart lengkap dengan lilin yang bertuliskan angka 17. Teman-temannya yang seharusnya telah meninggal, kini berada tepat di depannya sambil tersenyum.
“ Ka-kalian... Kalian jahat.” Katanya. Setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya dan akhirnya menangis tersedu-sedu.
“ Cup,cup, sudah ‘gak usah nangis.” Kata Cipe, salah satu temannya.
“ Sudahlah, yang penting kamu senang kan?” Kata Rian si sosok berjubah hitam sekaligus dalang dari semua hal yang telah terjadi. Hani hanya tersenyum kecut, sambil menghapus air matanya.
“ Wah, Ri! Kayaknya kamu cocok jadi artis. Aktingmu meyakinkan banget. Yaah walaupun mukanya kurang mendukung.” Kata Cipe mengundang tawa yang lainnya, tidak terkecuali Hani.
Yah, akhirnya hari itu menjadi hari ulang tahun terindah baginya. Dan lagi ada tamu yang tak diduga, siapa sangka kedua orang tuanya akan datang juga sambil membawa kado dan tentu saja tidak ketinggalan, makanan.^_^